Friday, May 8, 2015

🌴KEAGUNGAN TAHAJJUD🌴



πŸ€ Diantara keistimewaan dan keutamaan solat tahajjud, boleh rujuk didalam Al Quran: surah Ath-Thur ayat 49; Thaha ayat 130; Az-Zumar ayat 9; Al Furqan ayat 64-65; Ali Imran 113; Al Insan 26; Az Zariyat 15-19; Qaf 40; Al Isra 79 dan Al Muzammil 6.

πŸ€ Solat Tahajjud, merupakan ibadah yang pertama kali diperintahkan oleh Allah swt kepada Nabi kita Muhammad saw sebelum diperintahkan ibadah yang lain.

πŸ€ Solat Tahajjud juga, merupakan ibadah yang bernilai tinggi. Rasulullah saw bersabda “Dua rakaat yang dilakukan oleh seorang hamba dipertengahan malam yang akhir itu, jauh lebih baik dari dunia dan seisinya. Seandainya tidak akan menyusahkan umatku, niscaya akan saya fardhukan (tahajjud) keatas mereka “(Ihya Ulumuddin – Al Ghazali).

πŸ€ Solat Tahajjud, salah satu saranan untuk menjadi hamba yang bertaqwa. Allah swt berfirman “Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, dan di akhir malam mereka memohon ampunan Allah“ (Adz-Dzariya ayat 17-18). Diantara ciri orang yang bertaqwa “Setiap kali mereka ingin tidur dan berbaring, mereka rindu utk berduaan dengan Allah swt, dan Allah mengejutkannya.”

πŸ€ Ahli Tahajjud dijanjikan Allah swt masuk syurga. Ibnu Mas’ud menyebutkan “Tertulis dalam Taurat, Allah menjanjikan sesuatu kepada orang-orang yang menyempatkan dirinya beribadah di waktu malam, berupa sesuatu yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga, dan belum pernah terlintas di hati siapapun, bahkan malaikat pun tidak mengetahui, tidak juga para Nabi yang di utus. Kemudian kami membaca Al Quran ‘Tidak seorang pun yang mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka (berbagai kenikmatan) yang menyejukkan pandangan mata sebagai imbalan perbuatan mereka‘ (As-Sajdah (32 ) : 17)

πŸ€ Allah swt akan menempatkan ahli Tahajjud pada tempat yang terpuji. Allah swt berfirman “Pada sebagian malam hendaklah engkau bangun untuk bertahajjud, sebagai amalan nafilah (sunat) bagimu, mudah – mudahan Allah mengangkatmu ketempat yang terpuji“ (Al Isra ayat 79) 

πŸ€ Kerana itu mengapa ahli tahajjud zaman dahulu tidak tertarik dengan tawaran jabatan – jabatan apa pun di dunia?’ Jawabannya “Kerana Allah sebagai yang maha Penguasa Yang Menguasai alam semesta ini telah menjanjikan kepada Ahli Tahajjud akan diberikan jabatan atau kedudukan yang tidak dapat disamakan dengan jabatan di dunia ini”. 

πŸ€ Dharar bin Dhamrah Al Kanani bercerita tentang Ali bin Abi Thalib ra kepada Muawiyah bin Abi Sufyan“ Ia (Ali) menjauhi dunia beserta gemerlapannya. Ia sering merindukan malam dan kegelapannya.” Katanya lagi diantara ciri kekasih Allah “Hanya ingin terkenal di langit dan tidak ingin terkenal dibumi.” 

πŸ€ Disinilah peranan tahajjud, disamping untuk melatih keikhlasan. Kelihatan ulama-ulama akhirat yang bertahajjud punyai pengikut-pengikut yang ramai. Malah mereka dihormati dan dijadikan ikutan.

πŸ€ Kalau kita ingin mengungkap, mengangkat keutamaan dan keistimewaan solat Tahajjud, tidak akan habis, ibarat kita menyelam ke dasar samudera yang teramat dalam, semakin kedasar semakin indah dan banyak mutiara termahal yang tersimpan disana.

✴ Oleh itu, Ayuhlah kita wajibkan diri untuk bangun dan melaksanakan solat tahajjud, agar Kita diampun, diberi kasih sayang dan mendapat keredhaan sari Allah swt buat kita semua.. Wallahu a'lam..

Saturday, May 2, 2015

Sebuah kisah benar yang terjadi pada zaman kekhalifahan Umar bin Khattab.



Suatu hari Umar sedang duduk di bawah pohon kurma dekat Masjid Nabawi. Di sekelilingnya para sahabat sedang asyik berbincang sesuatu. Di kejauhan datanglah 3 orang pemuda. Dua pemuda memegang seorang pemuda lusuh yang diapit oleh mereka.

Ketika sudah berhadapan dengan Umar, kedua pemuda yang ternyata adik beradik itu berkata,
"Tegakkanlah keadilan untuk kami, wahai Amirul Mukminin!" "Qishashlah pembunuh ayah kami sebagai had atas kejahatan pemuda ini!".
Umar segera bangkit dan berkata,
"Bertakwalah kepada Allah, benarkah engkau membunuh ayah mereka wahai anak muda?".
Pemuda lusuh itu menunduk sesal dan berkata, "Benar, wahai Amirul Mukminin."
"Ceritakanlah kepada kami kejadiannya.", tegas Umar.

Pemuda lusuh itu mula bercerita,
"Aku datang dari pedalaman yang jauh, kaumku mengamanahkan aku untuk suatu urusan muammalah untuk ku selesaikan di kota ini. Sesampainya aku, ku ikat untaku pada sebuah pohon kurma lalu ku tinggalkan dia. Apabila kembali, aku sangat terkejut melihat seorang laki-laki tua sedang menyembelih untaku, rupanya untaku terlepas dan merosakkan kebun milik laki-laki tua itu. Sungguh, aku sangat marah, segera ku cabut pedangku dan ku bunuh ia. Ternyata ia adalah ayah dari kedua pemuda ini."

"Wahai, Amirul Mukminin, kau telah mendengar ceritanya, kami boleh mendatangkan saksi untuk itu.", sambung pemuda yang ayahnya terbunuh.
"Tegakkanlah had Allah atasnya!" timpal yang lain.
Umar terpegun dan bimbang mendengar cerita si pemuda lusuh.
"Sesungguhnya yang kalian tuntut ini pemuda soleh lagi baik budinya. Dia membunuh ayah kalian karena khilaf kemarahan sesaat", ujarnya.
"Izinkan aku, meminta kalian berdua memaafkannya dan akulah yang akan membayarkan diyat atas kematian ayahmu", lanjut Umar.
"Maaf Amirul Mukminin," sergah kedua pemuda masih dengan mata marah menyala, "kami sangat menyayangi ayah kami, dan kami tidak akan redha jika jiwa belum dibalas dengan jiwa".
Umar semakin bimbang, di hatinya telah tumbuh simpati kepada si pemuda lusuh yang dinilainya amanah, jujur dan bertanggung jawab.

Tiba-tiba si pemuda lusuh berkata, "Wahai Amirul Mukminin, tegakkanlah hukum Allah, laksanakanlah qishash ke atas ku. Aku redha dengan ketentuan Allah" ujarnya dengan tegas.
"Namun, izinkan aku menyelesaikan dulu urusan kaumku. Berilah aku tangguh 3 hari. Aku akan kembali untuk di qishash".

"Mana bisa begitu?", ujar kedua pemuda.
"Nak, tak punyakah kau kerabat atau kenalan untuk mengurus urusanmu?" tanya Umar.
"Sayangnya tidak ada Amirul Mukminin, bagaimana pendapatmu jika aku mati membawa hutang tanggungjawab kaumku bersamaku?" pemuda lusuh bertanya kembali.
"Baik, aku akan memberimu waktu tiga hari. Tapi harus ada yang mahu menjaminmu, agar kamu kembali untuk menepati janji." kata Umar.
"Aku tidak memiliki seorang kerabatpun di sini. Hanya Allah, hanya Allah lah penjaminku wahai orang-orang beriman", rajuknya.

Tiba-tiba dari belakang hadirin terdengar suara lantang, "Jadikan aku penjaminnya wahai Amirul Mukminin".
Ternyata Salman Al-Farisi yang berkata...
"Salman?" herdik Umar marah, "Kau belum mengenal pemuda ini,
Demi Allah, jangan main-main dengan urusan ini".
"Perkenalanku dengannya sama dengan perkenalanmu dengannya, ya Umar. Dan aku mempercayainya sebagaimana engkau percaya padanya", jawab Salman tenang.
Akhirnya dengan berat hati Umar mengizinkan Salman menjadi penjamin si pemuda lusuh.

Pemuda itu pun pergi mengurus urusannya.
Hari pertama berakhir tanpa ada tanda-tanda kedatangan si pemuda lusuh. Begitupun hari kedua.
Orang-orang mula bertanya-tanya apakah si pemuda akan kembali. Kerana mudah saja jika si pemuda itu menghilang ke negeri yang jauh.
Hari ketiga pun tiba. Orang-orang mulai meragukan kedatangan si pemuda, dan mereka mulai mengkhuatirkan nasib Salman. Salah satu sahabat Rasulullah SAW yang paling utama.
Matahari hampir terbenam, siang mula berakhir, orang-orang berkumpul untuk menunggu kedatangan si pemuda lusuh. Umar berjalan mundar-mandir menunjukkan kegelisahannya. Kedua pemuda yang menjadi penggugat kecewa kerana kein
gkaran janji si pemuda lusuh.
Akhirnya tiba waktunya penqishashan, Salman dengan tenang dan penuh ketawakkalan berjalan menuju tempat pembunuhan. Hadirin mulai teresak, orang hebat seperti Salman akan dikorbankan.

Tiba-tiba di kejauhan ada sesusuk bayangan berlari terhuyung-hayang, jatuh, bangkit, kembali jatuh, lalu bangkit kembali.
"Itu dia!" teriak Umar, "Dia datang menepati janjinya!".
Dengan tubuh bersimbah peluh dan nafas tercungap-cungap, si pemuda itu berpaut di pangkuan Umar.
"Hh..hh.. maafkan.. maafkan.. aku.." ujarnya dengan susah payah, "Tak ku sangka.. urusan kaumku.. mengambil.. banyak.. waktu..".
"Ku pacu.. tungganganku.. tanpa henti, hingga.. ia keletihan di gurun.. terpaksa.. kutinggalkan.. lalu aku berlari dari sana..".

"Demi Allah", ujar Umar menenanginya dan memberinya minum, "Mengapa kau susah payah kembali? Padahal kau boleh saja kabur dan menghilang?"
"Agar.. jangan sampai ada yang mengatakan.. di kalangan Muslimin.. tak ada lagi pahlawan.. tepati janji.." jawab si pemuda lusuh sambil tersenyum.
Mata Umar berkaca-kaca, sambil menahan haru, lalu ia bertanya, "Lalu kau Salman, mengapa semahu-mahunya kau menjamin orang yang baru saja kau kenal?".
 "Agar jangan sampai dikatakan, di kalangan Muslimin, tidak ada lagi rasa saling percaya dan mahu menanggung beban saudaranya", Salman menjawab dengan mantap.
Hadirin mulai banyak yang menahan tangis haru dengan kejadian itu.
"Allahu Akbar!" tiba-tiba kedua pemuda penggugat berteriak,
"Saksikanlah wahai kaum Muslimin, bahwa kami telah memaafkan saudara kami itu".
Semua orang tersentak kaget.
"Kalian.." ujar Umar, "Apa maksudnya ini? Mengapa kalian..?" Umar semakin terharu.
"Agar jangan sampai dikatakan, di kalangan Muslimin tidak ada lagi orang yang mahu memberi maaf dan sayang kepada saudaranya" ujar kedua pemuda membahana.
"Allahu Akbar!" teriak hadirin.
Pecahlah tangis bahagia, haru dan bangga oleh semua orang.
Begitupun kita disini, di saat ini..
sambil menyisipkan sekelumit rasa iri hati kerana tidak boleh merasakannya secara langsung bersama saudara-saudara kita pada saat itu..

"Allahu Akbar...".
Laa ilaa ha illa anta
Subhaanaka innii kuntu minaz zhaalimiin.

Banyak pengajaran dan iktibar dari cerita ini.
Inilah inspirasi pagi ini yang ku kongsi dari temanku sesama Muslim.....
Sebuah kisah benar yang terjadi pada zaman kekhalifahan Umar bin Khattab.

Suatu hari Umar sedang duduk di bawah pohon kurma dekat Masjid Nabawi. Di sekelilingnya para sahabat sedang asyik berbincang sesuatu. Di kejauhan datanglah 3 orang pemuda. Dua pemuda memegang seorang pemuda lusuh yang diapit oleh mereka.

Ketika sudah berhadapan dengan Umar, kedua pemuda yang ternyata adik beradik itu berkata,
"Tegakkanlah keadilan untuk kami, wahai Amirul Mukminin!" "Qishashlah pembunuh ayah kami sebagai had atas kejahatan pemuda ini!".
Umar segera bangkit dan berkata,
"Bertakwalah kepada Allah, benarkah engkau membunuh ayah mereka wahai anak muda?".
Pemuda lusuh itu menunduk sesal dan berkata, "Benar, wahai Amirul Mukminin."
"Ceritakanlah kepada kami kejadiannya.", tegas Umar.

Pemuda lusuh itu mula bercerita,
"Aku datang dari pedalaman yang jauh, kaumku mengamanahkan aku untuk suatu urusan muammalah untuk ku selesaikan di kota ini. Sesampainya aku, ku ikat untaku pada sebuah pohon kurma lalu ku tinggalkan dia. Apabila kembali, aku sangat terkejut melihat seorang laki-laki tua sedang menyembelih untaku, rupanya untaku terlepas dan merosakkan kebun milik laki-laki tua itu. Sungguh, aku sangat marah, segera ku cabut pedangku dan ku bunuh ia. Ternyata ia adalah ayah dari kedua pemuda ini."

"Wahai, Amirul Mukminin, kau telah mendengar ceritanya, kami boleh mendatangkan saksi untuk itu.", sambung pemuda yang ayahnya terbunuh.
"Tegakkanlah had Allah atasnya!" timpal yang lain.
Umar terpegun dan bimbang mendengar cerita si pemuda lusuh.
"Sesungguhnya yang kalian tuntut ini pemuda soleh lagi baik budinya. Dia membunuh ayah kalian karena khilaf kemarahan sesaat", ujarnya.
"Izinkan aku, meminta kalian berdua memaafkannya dan akulah yang akan membayarkan diyat atas kematian ayahmu", lanjut Umar.
"Maaf Amirul Mukminin," sergah kedua pemuda masih dengan mata marah menyala, "kami sangat menyayangi ayah kami, dan kami tidak akan redha jika jiwa belum dibalas dengan jiwa".
Umar semakin bimbang, di hatinya telah tumbuh simpati kepada si pemuda lusuh yang dinilainya amanah, jujur dan bertanggung jawab.

Tiba-tiba si pemuda lusuh berkata, "Wahai Amirul Mukminin, tegakkanlah hukum Allah, laksanakanlah qishash ke atas ku. Aku redha dengan ketentuan Allah" ujarnya dengan tegas.
"Namun, izinkan aku menyelesaikan dulu urusan kaumku. Berilah aku tangguh 3 hari. Aku akan kembali untuk di qishash".

"Mana bisa begitu?", ujar kedua pemuda.
"Nak, tak punyakah kau kerabat atau kenalan untuk mengurus urusanmu?" tanya Umar.
"Sayangnya tidak ada Amirul Mukminin, bagaimana pendapatmu jika aku mati membawa hutang tanggungjawab kaumku bersamaku?" pemuda lusuh bertanya kembali.
"Baik, aku akan memberimu waktu tiga hari. Tapi harus ada yang mahu menjaminmu, agar kamu kembali untuk menepati janji." kata Umar.
"Aku tidak memiliki seorang kerabatpun di sini. Hanya Allah, hanya Allah lah penjaminku wahai orang-orang beriman", rajuknya.

Tiba-tiba dari belakang hadirin terdengar suara lantang, "Jadikan aku penjaminnya wahai Amirul Mukminin".
Ternyata Salman Al-Farisi yang berkata...
"Salman?" herdik Umar marah, "Kau belum mengenal pemuda ini,
Demi Allah, jangan main-main dengan urusan ini".
"Perkenalanku dengannya sama dengan perkenalanmu dengannya, ya Umar. Dan aku mempercayainya sebagaimana engkau percaya padanya", jawab Salman tenang.
Akhirnya dengan berat hati Umar mengizinkan Salman menjadi penjamin si pemuda lusuh.

Pemuda itu pun pergi mengurus urusannya.
Hari pertama berakhir tanpa ada tanda-tanda kedatangan si pemuda lusuh. Begitupun hari kedua.
Orang-orang mula bertanya-tanya apakah si pemuda akan kembali. Kerana mudah saja jika si pemuda itu menghilang ke negeri yang jauh.
Hari ketiga pun tiba. Orang-orang mulai meragukan kedatangan si pemuda, dan mereka mulai mengkhuatirkan nasib Salman. Salah satu sahabat Rasulullah SAW yang paling utama.
Matahari hampir terbenam, siang mula berakhir, orang-orang berkumpul untuk menunggu kedatangan si pemuda lusuh. Umar berjalan mundar-mandir menunjukkan kegelisahannya. Kedua pemuda yang menjadi penggugat kecewa kerana kein
gkaran janji si pemuda lusuh.
Akhirnya tiba waktunya penqishashan, Salman dengan tenang dan penuh ketawakkalan berjalan menuju tempat pembunuhan. Hadirin mulai teresak, orang hebat seperti Salman akan dikorbankan.

Tiba-tiba di kejauhan ada sesusuk bayangan berlari terhuyung-hayang, jatuh, bangkit, kembali jatuh, lalu bangkit kembali.
"Itu dia!" teriak Umar, "Dia datang menepati janjinya!".
Dengan tubuh bersimbah peluh dan nafas tercungap-cungap, si pemuda itu berpaut di pangkuan Umar.
"Hh..hh.. maafkan.. maafkan.. aku.." ujarnya dengan susah payah, "Tak ku sangka.. urusan kaumku.. mengambil.. banyak.. waktu..".
"Ku pacu.. tungganganku.. tanpa henti, hingga.. ia keletihan di gurun.. terpaksa.. kutinggalkan.. lalu aku berlari dari sana..".

"Demi Allah", ujar Umar menenanginya dan memberinya minum, "Mengapa kau susah payah kembali? Padahal kau boleh saja kabur dan menghilang?"
"Agar.. jangan sampai ada yang mengatakan.. di kalangan Muslimin.. tak ada lagi pahlawan.. tepati janji.." jawab si pemuda lusuh sambil tersenyum.
Mata Umar berkaca-kaca, sambil menahan haru, lalu ia bertanya, "Lalu kau Salman, mengapa semahu-mahunya kau menjamin orang yang baru saja kau kenal?".
 "Agar jangan sampai dikatakan, di kalangan Muslimin, tidak ada lagi rasa saling percaya dan mahu menanggung beban saudaranya", Salman menjawab dengan mantap.
Hadirin mulai banyak yang menahan tangis haru dengan kejadian itu.
"Allahu Akbar!" tiba-tiba kedua pemuda penggugat berteriak,
"Saksikanlah wahai kaum Muslimin, bahwa kami telah memaafkan saudara kami itu".
Semua orang tersentak kaget.
"Kalian.." ujar Umar, "Apa maksudnya ini? Mengapa kalian..?" Umar semakin terharu.
"Agar jangan sampai dikatakan, di kalangan Muslimin tidak ada lagi orang yang mahu memberi maaf dan sayang kepada saudaranya" ujar kedua pemuda membahana.
"Allahu Akbar!" teriak hadirin.
Pecahlah tangis bahagia, haru dan bangga oleh semua orang.
Begitupun kita disini, di saat ini..
sambil menyisipkan sekelumit rasa iri hati kerana tidak boleh merasakannya secara langsung bersama saudara-saudara kita pada saat itu..

"Allahu Akbar...".
Laa ilaa ha illa anta
Subhaanaka innii kuntu minaz zhaalimiin.

Banyak pengajaran dan iktibar dari cerita ini.
Inilah inspirasi pagi ini yang ku kongsi dari temanku sesama Muslim.....
πŸƒ ..πŸƒ ..πŸƒ ..πŸƒ ..πŸƒ ..πŸƒ ..πŸƒ ..πŸƒ ..πŸƒ 
Seorang raja mempunyai. seorang hamba lelaki, pada semua keadaan, hamba tersebut selalu berkata,
"raja ku jangan berkecil hati dan kecewa kerana tiap sesuatu datang dari Allah dan pasti ada hikmahnya".
πŸƒ ..πŸƒ ..πŸƒ  πŸƒ ..πŸƒ ..πŸƒ 
Pada suatu hari, mereka pergi memburu dan haiwan buas telah menyerang raja, hamba raja itu  berjaya membunuh haiwan itu tetapi tidak dapat menyelamatkan satu jari baginda.
 πŸƒ ..πŸƒ ..πŸƒ ..πŸƒ 
Marah dan tanpa menunjukkan rasa terima kasih, Raja berkata; jika Tuhan adalah baik, saya tidak akan diserang dan hilang satu jari.
πŸƒ ..πŸƒ ..πŸƒ 
Hamba itu menjawab "raja ku jangan berkecil hati dan kecewa kerana tiap sesuatu datang dari Allah dan pasti ada hikmahnya"
πŸƒ ..πŸƒ ..πŸƒ ..πŸƒ 
Marah dengan jawapan itu, raja memerintahkan supaya hamba itu dimasukan ke dalam penjara
πŸƒ ..πŸƒ ..πŸƒ ..πŸƒ 
Ketika dibawa ke penjara, katanya kepada raja lagi, "aku tidak akan berkecil hati dan kecewa kerana tiap sesuatu datang dari Allah dan pasti ada hikmahnya"
πŸƒ ..πŸƒ ..πŸƒ ..
Beberapa hari kemudian, raja ditinggalkan sendirian untuk memburu dan telah ditangkap oleh orang asli yang menggunakan manusia yang sempurna untuk di korbankan
 πŸƒ ..πŸƒ ..πŸƒ ..πŸƒ 
Di saat raja itu mahu dikorbankan, orang asli itu mendapati bahawa raja tidak mempunyai satu jari, dia dibebaskan kerana dia dianggap tidak "sempurna" untuk dikorbankan.
πŸƒ ..πŸƒ ..πŸƒ 
Sekembalinya ke
istana, raja tersebut memerintahkan supaya hambanya dibebaskan dan berkata;
Kawan, Allah adalah benar-benar baik untuk saya. Saya hampir tewas tetapi kerana kekurangan satu jari. Jadi saya telah dibebaskan.
πŸƒ ..πŸƒ ..πŸƒ 
Tetapi saya mempunyai satu soalan; Jika Tuhan begitu baik, mengapa Dia membenarkan saya untuk meletakkan anda di dalam penjara?
πŸƒ ..πŸƒ ..πŸƒ ..πŸƒ 
Hambanya menjawab; Raja, jika saya tidak dimasukkan ke dalam penjara, saya akan pergi berburu dengan Tuan, dan akan dikorbankan, kerana saya tidak mempunyai jari yang hilang.
πŸƒ ..πŸƒ ..πŸƒ 
Semua yang Allah izinkan terjadi adalah baik dan sempurna, Dia tidak pernah salah.
πŸƒ ..πŸƒ ..πŸƒ ..πŸƒ 
Sering kali kita mengeluh tentang hidup, dan pemikiran negatif dalam diri kita membunuh positif dalam diri kita... jadi berfikir positif dan percaya Allah pada setiap masa. Setiap sesuatu yang menimpa diri kita, datangnya dari Allah dan pasti ada hikmahnya....
πŸƒ ..πŸƒ  πŸƒ ..πŸƒ ..
πŸƒ ..πŸƒ ..πŸƒ ..πŸƒ ..πŸƒ ..πŸƒ ..πŸƒ ..πŸƒ ..πŸƒ 
Seorang raja mempunyai. seorang hamba lelaki, pada semua keadaan, hamba tersebut selalu berkata,
"raja ku jangan berkecil hati dan kecewa kerana tiap sesuatu datang dari Allah dan pasti ada hikmahnya".
πŸƒ ..πŸƒ ..πŸƒ  πŸƒ ..πŸƒ ..πŸƒ 
Pada suatu hari, mereka pergi memburu dan haiwan buas telah menyerang raja, hamba raja itu  berjaya membunuh haiwan itu tetapi tidak dapat menyelamatkan satu jari baginda.
 πŸƒ ..πŸƒ ..πŸƒ ..πŸƒ 
Marah dan tanpa menunjukkan rasa terima kasih, Raja berkata; jika Tuhan adalah baik, saya tidak akan diserang dan hilang satu jari.
πŸƒ ..πŸƒ ..πŸƒ 
Hamba itu menjawab "raja ku jangan berkecil hati dan kecewa kerana tiap sesuatu datang dari Allah dan pasti ada hikmahnya"
πŸƒ ..πŸƒ ..πŸƒ ..πŸƒ 
Marah dengan jawapan itu, raja memerintahkan supaya hamba itu dimasukan ke dalam penjara
πŸƒ ..πŸƒ ..πŸƒ ..πŸƒ 
Ketika dibawa ke penjara, katanya kepada raja lagi, "aku tidak akan berkecil hati dan kecewa kerana tiap sesuatu datang dari Allah dan pasti ada hikmahnya"
πŸƒ ..πŸƒ ..πŸƒ ..
Beberapa hari kemudian, raja ditinggalkan sendirian untuk memburu dan telah ditangkap oleh orang asli yang menggunakan manusia yang sempurna untuk di korbankan
 πŸƒ ..πŸƒ ..πŸƒ ..πŸƒ 
Di saat raja itu mahu dikorbankan, orang asli itu mendapati bahawa raja tidak mempunyai satu jari, dia dibebaskan kerana dia dianggap tidak "sempurna" untuk dikorbankan.
πŸƒ ..πŸƒ ..πŸƒ 
Sekembalinya ke
istana, raja tersebut memerintahkan supaya hambanya dibebaskan dan berkata;
Kawan, Allah adalah benar-benar baik untuk saya. Saya hampir tewas tetapi kerana kekurangan satu jari. Jadi saya telah dibebaskan.
πŸƒ ..πŸƒ ..πŸƒ 
Tetapi saya mempunyai satu soalan; Jika Tuhan begitu baik, mengapa Dia membenarkan saya untuk meletakkan anda di dalam penjara?
πŸƒ ..πŸƒ ..πŸƒ ..πŸƒ 
Hambanya menjawab; Raja, jika saya tidak dimasukkan ke dalam penjara, saya akan pergi berburu dengan Tuan, dan akan dikorbankan, kerana saya tidak mempunyai jari yang hilang.
πŸƒ ..πŸƒ ..πŸƒ 
Semua yang Allah izinkan terjadi adalah baik dan sempurna, Dia tidak pernah salah.
πŸƒ ..πŸƒ ..πŸƒ ..πŸƒ 
Sering kali kita mengeluh tentang hidup, dan pemikiran negatif dalam diri kita membunuh positif dalam diri kita... jadi berfikir positif dan percaya Allah pada setiap masa. Setiap sesuatu yang menimpa diri kita, datangnya dari Allah dan pasti ada hikmahnya....
πŸƒ ..πŸƒ  πŸƒ ..πŸƒ ..

Bila sudah tua...

Mengapa bila meningkat usia, byk perkara yg digemari sewaktu muda semakin tdk menyeronokkan? Lihatlah sesuatu yg Allah takdirkan dgn mata hati supaya kita dpt muhasabah diri. Cnth2 yg diberikan.

SATU •
Bila tua, keinginan utk makan sedap2 semkn berkrgn. Nafsu makan sudah tiada. Hikmahnya : Perbykkan puasa sunat ataupun mengqada’ puasa2 yang pnh ditinggalkan sewaktu muda.

DUA • 
Bila tua, kerap terjaga di waktu malam & mata sukar lelap kembali.
Hikmahnya : Bangunlah utk berkiamulail, mengerjakan solat2 sunat spt tahajud, solat taubat & lain2. Brgkali sewaktu muda tdk pnh melakukannya, maka Allah bg peluang utk melakukannya sblm berakhir usia.

TIGA • 
Bila tua, sdh tdk gemar menonton tv. Tdk lg ada rncgn tv yang diminati.
Hikmahnya : Waktu yg terluang itu, perbykkan membaca AlQuran. Mgkn sewaktu muda tdk pnh khatam, maka sewaktu tua ini berusaha lah utk khatam. Plg tdk pun sekali setahun.

EMPAT • 
Bila tua & sudah bersara, byk waktu lapang. Byk waktu senggang. Anak2 sdh denwasa & mempunyai keluarga sendiri, jadi kita blh mengurus masa dgn lbh bermanfaat. Sisa2 usia yg Allah pinjamkan blhlah digunakan utk hal2 berfaedah yg manfaatnya blh menjadi peneman kita di alam barzah/akhirat kelak. Bykkan menghabiskan masa di surau/masjid, menghadiri majlis ilmu, belajar alQuran, bertalakki dgn ustaz/ustazah/alhafiz dan lain2 prog yg berfaedah.

Wallahualam. Sekadar berkongsi.

Friday, April 10, 2015

CARILAH ORANG-ORANG YANG APABILA KITA MELIHATNYA SAHAJA PASTI KITA AKAN INGAT KEPADA ALLAH TA'ALA BUKANNYA MEREKA YANG MEMBUATKAN KITA LALAI DAN LUPA KEPADA ALLAH BAHKAN MEMBAWA KITA KEPADA KEMAKSIATAN



Dengan melihat seseorang itu juga boleh meningkatkan iman kita.Sepertimana seorang Tabi'in yang bernama Muhammad Bin Wasit Radhiyallahu'Anhu yang diantaranya disebutkan oleh Abdullah Bin Umar Radhiyallahu'Anhu.

"Kadang-kadang iman kami bertambah dan berkurang tapi apabila kami merasakan iman kami mula menurun je maka kami akan segera mencari Muhammad Bin Wasit.Buat apa?Tengok kepada dia sahaja maka kami akan ingat kepada Allah Ψ³Ψ¨Ψ­Ψ§Ω†Ω‡ وΨͺΨΉΨ§Ω„Ω‰."

Tapi hari ini perkataan dan cara ini telah diketahui oleh musuh-musuh Islam.Mereka dah tahu.Dan nak jauhkan pandangan mata orang-orang Islam ini daripada melihat kepada orang-orang yang akan mendekatkan diri kepada Allah  Ψ³Ψ¨Ψ­Ψ§Ω†Ω‡ وΨͺΨΉΨ§Ω„Ω‰.

Maka ditonjolkan ikon-ikon,gambaran-gambaran orang-orang yang diminati dan sebagainya.Yang mana mereka ini merupakan orang-orang yang menjauhkan diri daripada Allah  Ψ³Ψ¨Ψ­Ψ§Ω†Ω‡ وΨͺΨΉΨ§Ω„Ω‰.

Dan kita akhirnya menggunakan mata ini tidak melihat kepada orang-orang yang mengingatkan kita kepada Allah tetapi melihat kepada orang-orang yang menjauhkan kita daripada Allah  Ψ³Ψ¨Ψ­Ψ§Ω†Ω‡ وΨͺΨΉΨ§Ω„Ω‰.

Hargailah nikmat mata ini.Terpulang kepada kita ingin melihat kepada sesiapa pun kerana kita memiliki mata ini.Dan terpulanglah kaki kita ini untuk duduk-duduk dengan siapa dan pergi ke mana kerana kitalah yang memilikinya.

Akan tetapi HARGAILAH semua nikmat yang dikurniakan oleh Allah Ψ³Ψ¨Ψ­Ψ§Ω†Ω‡ وΨͺΨΉΨ§Ω„Ω‰ kepada kita dengan kita gunakan,halakan,tujukan segala pandangan kita dan perbuatan kita kepada Allah  Ψ³Ψ¨Ψ­Ψ§Ω†Ω‡ وΨͺΨΉΨ§Ω„Ω‰.Yang mana setiap apa yang kita lakukan itu adalah membuatkan kita semakin dekat kepada Allah bukannya membuatkan kita semakin jauh daripada-Nya baik kita sedar mahupun kita tidak sedar.

Adakah masih ada lagi orang-orang seperti ini di zaman kita sekarang?
Yang mana apabila kita melihatnya,bersamanya sahaja pasti kita akan mengingati Allah  Ψ³Ψ¨Ψ­Ψ§Ω†Ω‡ وΨͺΨΉΨ§Ω„Ω‰?

Masih ada lagi.Ada orang yang kita duduk-duduk pasti kita ingat kepada Allah Ψ³Ψ¨Ψ­Ψ§Ω†Ω‡ وΨͺΨΉΨ§Ω„Ω‰.Perkataannya itu sahaja pasti akan meningkatkan iman kita.Duduk-duduk dengan  dia pun akan memberikan ketenangan kepada kita.Mengingatkan kita kepada Allah Ψ³Ψ¨Ψ­Ψ§Ω†Ω‡ وΨͺΨΉΨ§Ω„Ω‰.

Akan tetapi ternyata hari ini hatta di dalam rumah kita,di luar rumah atau di mana-mana sahaja.Semuanya memanggil kita untuk jauh daripada Allah Ψ³Ψ¨Ψ­Ψ§Ω†Ω‡ وΨͺΨΉΨ§Ω„Ω‰ dan mendekatkan diri kita kepada maksiat.

Dengan siapa kita berkawan itu akan mempengaruhi diri kita,akhlak kita.Kalau kita berkawan dengan mereka yang sentiasa mengingatkan kita kepada Allah Ψ³Ψ¨Ψ­Ψ§Ω†Ω‡ وΨͺΨΉΨ§Ω„Ω‰ yang baik akhlaknya maka pasti diri kita,iman kita pasti akan meningkat dan terus meningkat dan akhlak kita juga pasti akan baik sepertimana orang yang kita rapat.

Akan tetapi sekiranya yang kita berkawan itu yang kita rapat itu adalah mereka yang membuatkan diri kita lalai dalam mengingati Allah  Ψ³Ψ¨Ψ­Ψ§Ω†Ω‡ وΨͺΨΉΨ§Ω„Ω‰ yang menjauhkan kita daripada Allah dan yang menarik kita kepada kemaksiatan maka ketahuilah kita adalah merupakan orang yang RUGI sekali.

Tak salah kita nak berkawan dengan sesiapa pun.Bahkan itu adalah yang sebaik-baiknya kerana kita menyambung hubungan silaturrahim sesama Islam.Akan tetapi kita perlu bijak di dalam pergaulan kita yang mana setiap pergaulan kita,muamalat kita pasti akan memberikan kesan kepada diri kita hati kita.Jikalau baik pergaulannya maka baiklah kesannya.Akan tetapi sekiranya sebaliknya maka buruklah jadinya.

#MutiaraKata[AL-HABIB NAJMUDDIN OTHMAN AL-KHERED HAFIDZOHULLAH]

#MuhasabahDiri
#JagaDiriJagaIman
#CarilahOrangYangSentiasaMengingatkanDiriKitaKepadaAllah
#SemogaKitaSemuaDapatIngatMengingatkanKepadaAllah
#PeringatanBuatDiriSendiri
#PeringatanBersama
#SalingIngatMengingatkan

Pandangan Haron Din Berkenaan “Zikir Sambil Menari”

HarakahDaily
Your Alternative Malaysian News

Posted on July 2, 2013 by admin


Tuan Guru Dato’ Dr. Haron Din

Oleh Tuan Guru Dato’ Dr. Haron Din

Kadang-kadang ada yang memberi jawapan tentang sesuatu hukum itu mengikut ‘rasa’, seperti soalan anda tentang hukum menari yang diamalkan oleh puak sufi seperti di atas, penjawab itu berkata rasanya tidak boleh. Mungkin juga ada orang lain yang akan menjawab rasanya boleh.

Jawapan bagi persoalan agama bukan boleh dimain dengan ‘rasa’. Ia memerlukan sandaran hukum yang perlu dirujuk kepada sumber yang sahih.

Berkenaan dengan zikrullah, Allah SWT berfirman (mafhumnya): “Iaitu orang-orang yang menyebut dan mengingati Allah semasa mereka berdiri dan duduk dan semasa mereka berbaring mengiring, dan mereka pula memikirkan tentang kejadian langit dan bumi (sambil berkata): ‘Wahai Tuhan kami! Tidaklah Engkau menjadikan benda-benda ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari azab neraka.” (Surah ‘Ali-‘Imran ayat 191).

Ayat ini memberi isyarat bahawa zikrullah boleh dilakukan dalam pelbagai keadaan dan gaya.

Ummul Mukminin Aisyah r.ha. pernah melaporkan bahawa Rasulullah SAW berzikrullah (berzikir kepada Allah) dalam semua keadaan. Sedang berjalan, menaiki kenderaan, di atas kenderaan, berbaring, duduk dan bermacam lagi pernah dilaksanakan oleh Rasulullah SAW.

Dalam satu riwayat pernah diceritakan bahawa Jaafar bin Abi Talib r.a (sepupu Rasulullah), pernah menari-nari melenggok lentuk di hadapan Rasullullah SAW sebaik sahaja beliau mendengar Rasulullah SAW menyebut kepada beliau, “Allah menjadikan rupa parasmu seiras dengan Allah menciptakan daku.”

Mendengar kata-kata yang seindah dan semurni itu, terus ditakbirkan dengan menari-nari di hadapan Rasullullah SAW. Tingkah laku beliau itu atau ‘body language’ beliau tidak ditegah atau ditegur oleh Rasulullah SAW.

Di sinilah dikatakan atau dijadikan asal usul sandaran bahawa menari-nari sambil berzikir kepada Allah yang dilakukan oleh ahli tarikat atau golongan sufiyah, ada sandarannya.

Sahlah berlaku tarian di majlis zikir yang dihadiri oleh ulama besar yang muktabar. Antara mereka ialah al-Imam Izzuddin Abdus Salam dan tidak diengkarinya.

Ditanya Shaikhul Islam Sirajuddin al-Balqini tentang persoalan tari- menari dalam majlis zikir, lalu dijawab beliau dengan mengiyakannya, yakni boleh dilakukan.

Ditanya al-Allamah Burhanuddin al-Abnasi, perkara yang sama, maka beliau menjawab dengan membolehkannya.

Ditanya ulama besar dalam mazhab Hanafi dan Maliki, semuanya menjawab, “Tidak mengapa dan boleh dilakukan.”

Semua jawapan ini dibuat dengan bersandarkan kepada ayat dalam Surah ‘Ali-‘Imran di atas berserta hadis yang diriwayatkan oleh Jaafar bin Abi Talib r.a. Adapun tarian yang dilarang adalah tarian yang bercampur lelaki perempuan yang bukan mahram, lebih-lebih lagi ia diadakan dalam majlis yang kemaksiatannya ketara seperti berpakaian tidak menutup aurat, diiringi dengan muzik dan suasana yang mengundang kepada syahwat dan lain-lain.

Itulah yang disebut haram. Haram bukan soal tarian, tetapi dilihat dari aspek persembahan, suasana dan dilihat dengan jelas kemaksiatan. Adapun tarian dalam zikrullah, adalah tarian khusus yang lahir daripada rasa kesyahduan kepada Allah, dengan kelazatan munajat dan bertaladdud (berseronok kerana zikrullah).

Perasaan seronok dan lazat itu yang diketahui oleh orang yang mengetahuinya, merupakan anugerah Allah kepada mereka. Mereka hendak menunjukkan bahasa badan (body language) mereka dengan menari-nari tanda keseronokan, tetapi dibuat kerana Allah SWT. Atas itulah pada pendapat saya bahawa tarian dalam majlis-majlis sufi itu adalah harus.

Untuk menyatakan haram atau tidak boleh memang mudah, tetapi harus disandarkan kepada dalil. Jika tidak ada dalil atau hujah, berbaliklah kepada hukum feqah

Sikit utk Renungan kita bersama.....

Ψ’Ω…ΩŠΩ† يا Ψ§Ω„Ω„Ω‡.. يا Ψ±Ψ¨ Ψ§Ω„ΨΉΨ§Ω„Ω…ΩŠΩ†
Ψ§Ω„Ψ³Ω„Ψ§Ω… ΨΉΩ„ΩŠΩƒΩ…  ΩˆΨ±Ψ­Ω…Ψ© Ψ§Ω„Ω„Ω‡ ΩˆΨ¨Ψ±ΩƒΨ§ΨͺΩ‡. .....
Ribuan kemaafan dipohon kpd semua di Pg Jumaat Penghulu segala hari ini......



Kata-kata Hikmah Ibn 'Arabi Ψ±Ψ­Ω…Ω‡ Ψ§Ω„Ω„Ω‡
Hikam Ibn ‘Arabi

Kitab Hikam al-Syaikh al-Akbar adalah antara kitab-kitab Hikam yang masyhur dalam ilmu tasawuf selain Hikam Abi Madyan, Hikam Ibn ‘Ata’illah, Hikam al-Haddad dan lain-lain. Ia mengandungi berbagai hikmah dan kaedah sufiyyah, dan telah disyarah oleh beberapa ulama antaranya oleh; Syeikh Muhammad bin Mahmud bin ‘Ali al-Damauni dan Syeikh Mulla Hasan bin Musa al-Kurdi al-Bani. Sebahagiannya telah diterjemahkan ke bahasa Melayu seperti yang dapat dilihat dalam lawan web Syeikh Yusuf Muhyiddin al-Bakhur al-Hasani. Di bawah ini pilih 21 permata hikam daripadanya untuk kita renungi dan ambil iktibar, iaitu:-

1. Segala anugerah yang sesuai dengan hawa nafsumu maka itu adalah ujian, dan segala ujian yang menyalahi hawa nafsumu maka itu adalah anugerah.

2. Seorang zahid bukanlah orang yang zuhud dari dirham dan dinar (harta), akan tetapi seorang zahid adalah yang zuhud dari yang selain daripada Yang Maha Perkasa (Allah).

3. Tidak akan memperoleh puncak keredhaanNYA seorang yang di dalam hatinya ada sesuatu yang selain NYA (Allah)

4. Tidak dapat diharapkan sampai kepada Allah dari orang yang tidak mengikuti Rasululllah SAW.

5. Tidak akan faham apa yang kami katakan, kecuali orang yang telah mengikuti jejak Rasulullah SAW.

6. Janganlah engkau mengambil ilmu kecuali dari orang yang mengamalkannya.

7. Selama engkau dalam pencarian al-Haq (Allah), maka janganlah berdiri bersama makhluk.

8. Barangsiapa yang ikhlas niatnya karena Allah semata-mata, maka Allah dan para malaikatNYA akan melindunginya.

9. Barangsiapa yang tidak mengambil jalan ini (jalan menuju kepada Allah) daripada para rijal (ahli ma’rifah), maka ia terus  berpindah dari mustahil kepada mustahil 

10. Engkau tidak akan menjadi hamba bagi Allah sedang engkau cenderung (hati) kepada sesuatu yang selainNYA.

Panjang sangat ada 21 kata-kata hikmah. Yg selebihnya 11  lg bersambung  lg akan datang insyallah......

Semoga bermanfaat untuk kita semua....

ΩˆΨ§Ω„Ψ³Ω„Ψ§Ω….......

Monday, April 6, 2015

DARI HABIB ALI Zainal Abidin bin Abu Bakar Al-Hamid...



Akhirat dihati; "Ini adalah Kisah dua adik-beradik yang soleh. Abangnya itu banyak harta, tinggal di kota. Yang adiknya pula orang biasa, seorang Guru yang alim duduk di kampung. Bahkan adiknya ini setiap hari nak makan kena pergi ke sungai untuk menangkap ikan. Tiap hari seperti itu. Dia ditemani dengan muridnya."

"Pada suatu hari, guru ini memerintahkan muridnya untuk berjumpa dengan abangnya untuk sampaikan salam kepadanya dan meminta nasihat buat dirinya. Lalu murid ini pon pergi tanpa mengetahui kehidupan abangnya. Didalam hati murid ini sangkaan abangnya ini mungkin lebih alim lebih zuhud dari gurunya ini."

"Sampai sahaja di rumah abangnya maka hairan sungguh muridnya itu.
Rumah abangnya sangat besar dan keluasan dunia diberikan oleh Allah Ψ³Ψ¨Ψ­Ψ§Ω†Ω‡ وΨͺΨΉΨ§Ω„Ω‰ kepadanya. Kemudian dia meminta izin untuk berjumpa abang kepada gurunya itu. Setelah berjumpa, dia sampaikan salam serta dia beritahu yang gurunya itu meminta nasihat. Didalam hatinya, guru aku orang yang zuhud. Abangnya ini penuh dengan nikmat dunia takkan la meminta nasihat daripadanya."

"Lalu abangnya pon berkata; 
Engkau pulang dan beritahu adikku itu, bahawa jangan sibukkan hatinya dengan dunia. Wah! Bertambah hairanlah anak muridnya itu dan berkata dalam hatinya adakah aku salah dengar ni. Patutnya abangnya itu cakap pada dirinya sendiri yang penuh dengan nikmat dunia."

"Lalu muridnya pulang kepada gurunya. Lalu di tanya gurunya,
"Kamu dah ketemu sama abangku? Apa nasihatnya buat diri ku ini?"
Murid nya pon bingung nak sampai kan atau tidak pada gurunya yang zuhud itu. Lalu di sampaikan didalam ketakutan. Wahai sheikh! Abangmu berpesan hendaklah engkau mengeluarkan dari hatimu itu dari kesibukan atas dunia."

"Lalu gurunya pon menangis. Bertambah hairanlah muridnya itu tadi. Makin binggunglah dengan adik beradik ini. Tangisan gurunya itu bukan setakat mengalir air mata bahkan sampai tersedu-sedu nangis nya. Bila ditanya muridnya, Wahai sheikh bolehkah kau jelaskan pada ku apa yang terjadi antara engkau dan abangmu?"

"Guru nya menjawab, "Adakah engkau tahu bahawa nasihat abangku itu satu tamparan buat diriku. Kerna aku tahu aku di jalan yang salah." Muridnya bertanya, Kenapa begitu wahai guru? Engkau sudah begitu warak tapi kenapa abangmu berkata demikian?"

"Gurunya menjawab, "Engkau tahu bahawa abangku yang banyak harta itu, dia sebenarnya tidak mahu akan harta itu. Tapi hatinya selalu bersama Allah Ψ³Ψ¨Ψ­Ψ§Ω†Ω‡ وΨͺΨΉΨ§Ω„Ω‰ dan dia sibukkan diri beribadat pada Allah Ψ³Ψ¨Ψ­Ψ§Ω†Ω‡ وΨͺΨΉΨ§Ω„Ω‰, Maka dunia yang mengejarnya. Dia tidak mahu sebenarnya tapi dia tiada upaya untuk menahan dunia menuju kepada dirinya. Sekalipon harta itu hilang sekalipon daripadanya. Sekalipon harta itu direntap oleh Allah Ψ³Ψ¨Ψ­Ψ§Ω†Ω‡ وΨͺΨΉΨ§Ω„Ω‰ daripadanya. Hatinya tidak terkesan sedikit pon dengan harta dunia itu. Hatinya tetap dengan Allah Ψ³Ψ¨Ψ­Ψ§Ω†Ω‡ وΨͺΨΉΨ§Ω„Ω‰."

"Sedangkan aku, Yang kau lihat seorang yang warak, alim ini, setiap kali aku dalam perjalanan pergi ke sungai untuk mencari ikan, aku dalam keadaan ragu dengan janji Allah Ψ³Ψ¨Ψ­Ψ§Ω†Ω‡ وΨͺΨΉΨ§Ω„Ω‰. Aku ragu-ragu dengan rezeki Allah Ψ³Ψ¨Ψ­Ψ§Ω†Ω‡ وΨͺΨΉΨ§Ω„Ω‰. Aku tidak yakin bahawa aku dapat ikan atau tidak pada hari itu. Setiap hari bermain dalam fikiran ku hari ini aku dapat ikan atau tidak. Kadangkala Allah Ψ³Ψ¨Ψ­Ψ§Ω†Ω‡ وΨͺΨΉΨ§Ω„Ω‰ tak beri aku ikan dalam masa tiga hari kerna sifat ragu-ragu ku itu."

"Sedangkan didalam Al-quran, Allah Ψ³Ψ¨Ψ­Ψ§Ω†Ω‡ وΨͺΨΉΨ§Ω„Ω‰ sudah menjanjikan rezeki buat hambanya. Sesungguhnya Allah Ψ³Ψ¨Ψ­Ψ§Ω†Ω‡ وΨͺΨΉΨ§Ω„Ω‰ tidaklah memungkiri janji. "

Kesimpulan, "Jangan kita menyangka orang yang kelihatan bajunya mahal,
hidup mewah, makan enak, itu orang yang tidak sibukkan hatinya pada Allah Ψ³Ψ¨Ψ­Ψ§Ω†Ω‡ وΨͺΨΉΨ§Ω„Ω‰. Kita tidak menilai seseorang itu hanya dari segi luaran. Kerna banyak orang yang miskin, yang tidak yakin dengan pemberian rezeki dari Allah Ψ³Ψ¨Ψ­Ψ§Ω†Ω‡ وΨͺΨΉΨ§Ω„Ω‰. " Wallahu A'lam.. 

Daripada Sayyidil Habib Ali Zaenal Abidin bin Abu Bakar Al-Hamid.